Senin, 18 April 2011
Bahan Bakar dari Tebu Turunkan Temperatur Udara
Penggunaan tebu sebagai bahan bakar kendaraan pengganti minyak dari fosil punya efek samping yang menggembirakan: menurunkan temperatur udara. Demikian dilaporkan oleh para ilmuwan hari Minggu kemarin.
Penurunan temperatur tersebut disebabkan oleh kemampuan tanaman tebu untuk memantulkan sinar matahari serta melepaskan kelembapan ke udara. "Tanaman itu mengambil kelembapan dari tanah dan memancarkannya ke udara sebagai bagian dari proses fotosintesis," kata pemimpin studi Scott Loarie dari Carnegie Institution for Science.
Loarie, yang studinya diterbitkan dalam Nature Climate Change, menambahkan bahwa efek pelepasan kelembapan ini memiliki efek yang lebih besar daripada pemantulan sinar matahari.
Saat ini, seperempat kendaraan bermotor di Brazil menggunakan bahan bakar nabati yang dibuat dari tebu. Bahan bakar tersebut mencegah efek rumah kaca akibat pelepasa karbon dioksida ke atmosfer, yang menyebabkan perubahan iklim global. (Sumber: National Geographic Indonesia)
Sabtu, 16 April 2011
Pameran Manusia Masa Depan
Science Gallery di Dublin menyelenggarakan pameran spesies manusia masa depan. Beberapa sajian yang di pameran itu adalah adalah Euthanasia Rollercoaster, 60 tengkorak yang dilengkapi dengan mata mekanik yang mengawasi gerakan Anda, serta sebuah proyek menyelidiki efek yang akan terjadi jika manusia yang membantu penyerbukan tanaman, bukan serangga.
Tujuan pameran berjudul Human+ itu adalah untuk meneliti dampak terhadap budaya dan sosial akibat perkembangan teknologi baru sekaligus memamerkan hasil kerja seniman, ahli biologi, ahli robotika, arsitek, dan ahli filosofi. Hasilnya adalah pameran gabungan antara instalasi seni, illmuwan dan uji coba sains dan teknologi.
Euthanasia Coaster adalah mesin buatan orang Lithuania bernama Julijonas Urbonas yang bertujuan untuk mencabut hidup seseorang menggunakan cara "elegan dan euforia". Roller coaster tersebut punya panjang 7.5 km dengan tinggi 500 m dan akan membuat tubuh bekerja melewati batas. Tekanan grativasit yang dihasilkan membuat orang kehilangan kesadaran dan meninggal akibat kekurangan oksigen di otak. Pada pameran ini, Urbonas membuat model dengan skala 1:500.
Sementara itu, Louise Phillipe asal Kanada menciptakan Are V5 yang terdiri dari 60 tengkorak dilengkapi dengan mata mekanik. Mata akanmenangkap ciri wajah dan mengikuti jejak orang yang melihatnya. Ahli robotika Msahiro Mori mengatakan bahwa ketika ada robot melihat dan bertingkah seperti manusia, akan ada respons berupa rasa muak oleh manusia.
Sumber : National Geographic Indonesia
Dinosaurus Iblis Ditemukan
Dinosaurus baru yang diberi nama "Evil Spirit Buck-Toothed Reptile" atau Daemonosaurus chauliodus ditemukan di New Mexico. Si iblis ini merupakan dinosaurus penghubung antara dinosaurus tertua dengan dinosaurus Jurassic spesies theropod.
Dinosaurus yang hidup 205 juta tahun yang lalu ini setinggi anjing besar dengan tulang yang tidak biasa. Demikian jelas Hans-Dieter Sues, ahli purbakala vertebrata di National Museum of Natural History di Washington D.C. "Moncongnya pendek dan gigi depannya besar-besar," katanya. Ia juga menambahkan, "Jenis struktur tulang yang tidak dikira pada waktu itu untuk dinosaurus predator."
Daemonosaurus c. ini merupakan jembatan yang menghubungkan kedua grup dinosaurus. Dari fosil yang ditemukan, dinosaurus ini memiliki beberapa ciri yang menghubungkan jeda evolusi antara dinosaurus awal ke dinosaurus yang lebih modern. Berdasarkan analisis terhadap fosil yang ditemukan, dinosaurus ini memiliki ciri Triassic dengan beberapa ciri dari Jurassic.
Ciri Triassic yang dimilikinya, misalnya, jeda kecil antara lubang hidung dengan rongga mata. Tulang yang berkaitan dengan kantung udara yang seperti sistem paru-paru burung juga masih punya ciri primitif. Ciri dinosaurus yang lebih modern yang dimiliki Daemonosaurus c. ada pada gigi.
"Ini adalah bukti bahwa dinosaurus punya distribusi yang lebih luas," jelas Sue. (Sumber: National Geographic Indonesia, Discovery News)
Langganan:
Postingan (Atom)